MerantiNews, Pekanbaru - Sejumlah subkontraktor yang terkabung dalam Forum Subkontraktor Stadion Pekan Olahraga Nasional (PON) membongkar kursi penonton dan fasilitas lain Stadion Utama Pekanbaru, Riau, lantaran hasil kerjanya membangun stadion itu belum dibayar.
Dengan ulah para subkontraktor itu, dikhawatirkan pertandingan kualifikasi Piala AFC yang akan digelar di Stadion Utama Pekanbaru, berlangsung tanpa kursi penonton, lampu, maupun fasilitas lainnya.
"Sore ini, kami telah melakukan pembongkaran untuk sebagian kursi dan lampu sorot sistem digitalnya juga sudah kami ambil. Jadi kemungkinan pertandingan kualifikasi Piala Asean Football Convederation (AFC) tanpa penerangan," kata juru bicara Forum Subkontraktor Stadion Utama PON Riau, Ari Setiawan di Pekanbaru , Sabtu malam.
Ari Setiawan, yang lebih dikenal dengan panggilan Wawan, mengatakan, selain kursi dan lampu sorot, pihaknya juga telah mematikan sistem penghitung pada papan skor, termasuk juga sistem pengeras suara atau sounsistem stadion.
"Bukan maksud hati menyakiti hati masyarakat Riau yang telah menanti-nanti penyelenggaraan AFC. Hal ini terpaksa kami lakukan karena tagihan kami atas proyek tersebut tak juga dibayarkan oleh pihak konsorsium (KSO)," katanya.
Konsorsium atau kontraktor bersama pemegang proyek Stadion Utama PON Riau senilai Rp900 miliar yang dimaksud Wawan yakni terdiri dari PT Adhi Karya, PT Pembangunan Perumahan dan PT Wijaya Karya.
Wawan mengatakan, pembongkaran akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan para tenaga kerja lapangan yang tersisa saat ini.
Hal itu diakuinya terpaksa dilakukan karena pihak konsorsium yang tidak berkomitmen tetap dan terus menggantung tunggakan tagihan yang seharusnya dibayarkan.
Sebelumnya diakui Wawan, pihaknya bersama sejumlah rekan subkontraktor lainnya juga sempat menggelar pertemuan beberapa kali dengan pihak konsorsium.
"Pertemuan pertama dilakukan di Pekanbaru dan pertemuan kedua digelar di Jakarta, tepatnya di Ruang Sekretariat Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)," katanya.
Memang, demikian Wawan, pada pertemuan di Jakarta itu, subkontraktor diminta untuk mendukung digelarnya kualifikasi Piala AFC di Pekanbaru.
Namun sayangnya, kata dia, pembayaran tunggakan tidak kunjung dicairkan sesuai dengan besaran yang dijanjikan.
Dia menguraikan, pada kesepakatan awal di Pekanbaru, pihak konsorsium berjanji akan melakukan pencairan tagihan sebesar 80 persen atau setara dengan uang tunai Rp25 miliar.
"Pada kenyataannya, pencairan hanya sebesar 30 persen atau sekitar Rp8 miliar. Karena tidak tercapai kesepakatan, maka subkontraktor melakukan tindakan dengan pembongkaran sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya," katanya.
Artinya, kata dia, masih ada sisa tagihan sekitar 50-60 persen atau sekitar Rp20 miliar. Hal demikian katanya, sangat janggal, padahal progres KSO ke Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) sudah mencapai 80 persen.
Sebelumnya Gubernur Riau H.M Rusli Zainal dalam sebuah acara menyatakan kebanggaannya atas rencana diselenggarakannya kualifikasi AFC di Pekanbaru.
"Saya berharap semua pihak dapat mendukung rencana ini hingga Pekanbaru dan Riau pada umumnya akan lebih dikenal di dunia internasional," katanya.
Gubernur Riau mengatakan, Pekanbaru akan menjadi tuan rumah kualifikasi AFC U-22 tahun 2013 untuk pertandingan group E yang mencakup enam negara.
Pertandingan kualifikasi AFC U-22 ini pertama kali diadakan di Riau, dan event ini juga baru di AFC, serta akan digelar di main stadium yang baru.
Para peserta yakni dari Australia, Jepang, Singapura, Timur Leste, Makaw, dan Indonesia sebagai tuan rumah. Pertandingan akan dimulai tanggal 5-15 Juli 2012 yang rencananya akan dilaksanakan di Stadion Utama PON pada Kompleks Universitas Riau (UR) Panam dan di Stadion Kaharuddin Nasution Kecamatan Rumbai.
Panitia Bidang Tiketing kualifikasi Piala AFC group E, Sofwan Nickita menyebutkan pihaknya juga telah menyiapkan tiket atas pertandingan tersebut.
Katanya, tiket sudah bisa didapat di Jalan Ababil Kelurahan Kampung Melayu No 11/40 mulai tanggal 25/6 mendatang.
Jumlah tiket yang akan dijual sebelum hari pertandingan hanya 30 persen dari jumlah total tiket. Sementara sebanyak 70 persen lagi katanya akan dijual pada saat pertandingan akan digelar beberapa waktu.
Ia menjelaskan, total tiket yang akan dijual sebanyak 183.213 tiket untuk lima kali pertandingan Indonesia.

